Dayung Raih Perunggu di Hongkong, Incar Ranking Atlet di Olimpiade 2020 Meningkat

0
98
Satu dari sembilan atlet dayung yang dikirim ke Asian Rowing Coastal Championship 2018, di Hongkong, membawa pulang medali Sabtu (25/11). Prestasi itu diraih oleh Romdhon Mardiana di nomor single sculls. (ilustrasi/arah.com)
Satu dari sembilan atlet dayung yang dikirim ke Asian Rowing Coastal Championship 2018, di Hongkong, membawa pulang medali Sabtu (25/11). Prestasi itu diraih oleh Romdhon Mardiana di nomor single sculls. (ilustrasi/arah.com)

Jakarta- Kabar positif kembali datang dari cabang olahraga dayung. Satu dari sembilan atlet yang dikirim ke Asian Rowing Coastal Championship 2018, di Hongkong, membawa pulang medali Sabtu (25/11) lalu. Memang bukan emas seperti capaian pada Asian Games 2018 lalu, melainkan perunggu.

Prestasi itu diraih oleh Romdhon Mardiana di nomor single sculls. Sejak awal, Timnas dayung tak memasang target besar pada ajang ARCC 2018 yang diselenggarakan 23-25 November lalu. Kejuaraan ini memang masuk dalam agenda pelatnas yang telah digeber sejak 2016.

Di antara enam nomor yang dipertandingkan, Indonesia hanya mengikuti empat nomor saja. Yakni single sculls putra, double sculls putra, single sculls putri, dan double sculls putri.

“Ada perubahan regulasi. Yang biasanya jarak hanya 500 meter, kini berubah menjadi 4 kilometer,” terang Muhammad Hadris, pelatih kepala pelatnas dayung. “Tentunya hal tersebut berpengaruh pada performa anak-anak,” ujarnya. Pada laga final, Romdhon finis ketiga dengan catatan waktu 21 menit 08,5 detik.

Related :  Demi Harapan Sebagai TNI, Wahyudi Jadikan Olahraga Dayung Menjadi Pintu Masuk

Sersan Dua Prajurit Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) ini kalah cepat dari Eduardo Gabriel Linares Ruiz dari Hongkong, yang mampu menyelesaikan lintasan dalam waktu 20 menit 07 detik. Disusul pedayung Thailand, Nuttapong Sangpromcharee, yang membukukan waktu 20 menit 44,2 detik.

Kendati demikian, capaian ini tak dapat dijadikan tolok ukur jelang kesiapan Indonesia guna menghadapi persaingan di kualifikasi olimpiade pada 2019. Mengingat peserta berasal dari empat negara saja, yaitu Hongkong, Tiongkok, Indonesia, dan Jepang.

Selain itu, karakteristik tempat pertandingan dan model perahu yang digunakan, juga berbeda dengan yang diterapkan saat olimpiade. Hingga saat ini, menurut Hadris, tim pelatih belum menentukan nama-nama atlet yang akan diberangkatkan untuk kualifikasi olimpiade nanti.

Apalagi Desember nanti, rencananya ada penambahan atlet muda untuk memperkuat skuad. Saat ini pedayung aktif ada 20 saja, sementara biasanya kuota ada 28. Para atlet junior yang berjumlah 10 orang ini akan menggantikan atlet-atlet senior yang telah memutuskan keluar dari pelatnas.

Related :  19 PPLP/SKO Berpartisipasi, Pantai Lakologou di Baubau Jadi Arena Kejurnas Dayung Pelajar 2018

“Nantinya kami akan mengadakan seleksi untuk menentukan tim,” ujar Hadris pada Senin (26/11). Rencananya ada empat nomor yang diikuti pada kualifikasi nanti, yakni single sculls putra, light weight men’s double sculls, single sculls putri, dan light weight women’s double sculls.

Pada 2016 lalu, dua pedayung Indonesia, yakni La Memo dan Dewi Yuliati, lolos kualifikasi dan tampil di Olimpiade Rio de Janeiro. Walau keduanya belum bisa bersaing di kancah dunia. Di sektor putra, Memo yang berasal dari Pulau Seram Barat, Maluku, hanya finis diurutan ke-16.

Sedangkan Dewi berada di posisi ke-29. Berkaca pada kesuksesan di Asian Games lalu, Hadris berupaya supaya ranking para atlet dayung Indonesia di olimpiade 2020 nanti bisa meningkat. (Adt)

Apa komentarmu?

avatar
  Subscribe  
Notify of