Jemparingan, Seni Panahan Melatih Raga dan Rasa

0
420
Jemparingan-Kemenpora
Jemparingan bukan hanya olahraga namun juga olahrasa. Foto: kemenpora

Bagi masyarakat Yogyakarta, kata Jemparingan amat dikenal dalam keseharian. Seni panahan tradisional Jawa Mataram ini, terinspirasi dari prajurit kraton yang tengah berlatih. Namun, seiring waktu, Jemparingan dijadikan ajang lomba olahraga.

Pada panahan modern, memanah dengan sesi posisi berdiri, sementara Jemparingan dilakukan dengan posisi duduk bersila. Selain itu, seorang pemanah harus mengenakan pakaian tradisional Jawa, seperti surjan, jarik (kain), stagen, sabuk timang, keris, dan blangkon untuk laki-laki. Dan, untuk wanita mengenakan kebaya, kain dan stagen.

Untuk peralatan terbilang sederhana yakni bahan kayu dan bambu, tanpa adanya tambahan peralatan modern seperti stabilizer maupun viring. Kemudian, sasaran dalam Jemparingan disebut bandul atau balon, terbuat dari batang pisang dengan diameter sekitar dua centimeter, dan panjang 12 centimeter.

Related :  Turnamen Golf South East Asian Amateur Golf Team Championship 2018 Akan di Adakan Di Myanmar

Lebih dari itu, Jemparingan membantu meningkatkan daya konsentrasi. Fokus adalah kesulitan sekaligus tantangan. Keberhasilan dalam membidik sasaran biasanya tergantung pada suasana hati. Jika suasana hati gembira, maka anak panah akan mudah mengenai target.

Tapi, jika suasana hati penuh amarah dan sedih, maka anak panah akan jauh dari sasaran. Tak ubahnya Yoga, aktifitas Jemparingan membutuhkan ketenangan pikiran serta latihan pernapasan guna mencapai kesempurnaan. (adt)

Apa komentarmu?

avatar
  Subscribe  
Notify of