Kisah Amel, Atlet Tenis Berprestasi Yang Terkendala Biaya

0
211
Kisah Amel, Atlet Tenis Berprestasi Yang Terkendala Biaya
Atlet Muda Asal Wonogiri, Amel Bersama Sang Kakek Sekaligus Pelatihnya, Gunawan, Berlatarbelakang Koleksi Piala dan Medali Kejuaraan. (Foto: Dok: Istimewa)

Kisah Atlet Tenis Muda Wonogiri, Amellia Putri Tennizya Vesty (11) untuk menjadi atlet muda berprestasi tidaklah mudah. Padahal, di usianya yang masih sangat muda, kemampuan Amel dalam bermain tenis lapangan tak perlu diragukan lagi.

Pasalnya dia sudah berhasil menjuarai puluhan turnamen tenis lapangan kelas usianya. Bukan hanya di nomor tunggal putri, kemampuan Amel juga mumpuni di kelas ganda putri.

Terbukti kurang dari lima tahun sejak pertama Amel ikut turnamen, puluhan medali, piala dan piagam penghargaan juara diraihnya. Namun, dibalik prestasinya yang mentereng, ada jalan yang tak begitu mulus yang dilalu Amel.

Hal tersebut diungkapkan oleh Gunawan Dwi Cahyo (62), kakek sekaligus pelatihnya.

Gunawan menceritakan, seluruh pembiayaan saat ikut turnamen memang keluar dari kantong pribadi, mulai dari pendaftaran hingga konsumsi. Padahal, untuk kejuaraan usia muda, menurut aturan tidak ada uang pembinaan.

Yang diberikan hanya medali dan piagam penghargaan.

Satu kali kejuaraan bisa keluar Rp 4-6 juta. Kan kalau kejuaraan berlangsung beberapa hari. Jujur saja berat, apalagi sudah pensiun,” kata dia kepada TribunSolo.com, Senin (24/1/2022).

Saat mengikuti kejuaraan di Kota Magelang, kata dia, bahkan Amel dan dia harus rela tidur di dalam mobil, sebab dana yang akan digunakan untuk sewa hotel minim.

Waktu itu, Gunawan mengaku menganggarkan dana untuk menginap di hotel Rp 100 ribu per malamnya. Namun saat itu, di sana tak ada hotel yang harganya sesuai dengan bugdetnya.

Kebetulan itu bareng sama event olahraga lain di sana. Hotelnya penuh, akhirnya terpaksa tidur di dalam mobil selama tiga malam, termasuk Amel,” jelasnya.

Kondisi tersebut memengaruhi kondisi fisik Amel karena posisi tidur yang tidak sesuai. Tapi hal tersebut bukan menjadi alasan untuk tidak membawa pulang gelar juara.

Selain di Magelang, sewaktu mengikuti kejuaraan di Surabaya Gunawan mengatakan juga sempat mengalami kesulitan karena kendala pendanaan.

Saat naik bus untuk pulang, uang saya tinggal cukup untuk satu orang penumpang. Nego sama agen busnya, sambil saya perlihatkan piagam sama piala Amel. Akhirnya boleh naik. Turun di Solo dijemput anak saya,” imbuh dia.

Termasuk untuk urusan perut, ada keterbatasan yang dialami Amel. Pernah suatu ketika peserta kejuaraan tenis lain memesan makanan-makanan enak dan mahal.

Namun, karena tak memiliki uang yang lebih Gunawan mengajak cucunya keluar penginapan dan hanya memakan mie ayam.

Yang lain saat itu pesan makanan online enak-enak sepertinya, Amel saya ajak keluar untuk beli mie ayam. Anaknya tetap semangat juga,” katanya.

Di sisi lain, ada turnamen tenis di pertengahan bulan Februari di Yogyakarta. Amel mengaku ingin ikut, namun hingga saat ini, Gunawan belum mendaftarkan cucunya. Alasannya pun sama, yakni keterbatasan ongkos.

Gunawan dan istrinya sudah sejak dua tahun lalu menjadi pensiunan. Dia pun kini masih mencari sponsor dan ayah asuh bagi Amel. Selain itu, dia juga berharap ada perhatian yang diberikan dari pemerintah.

Kalau saya niatnya itu nandur, kalau orang nandur itu kan pasti menuai. Sekalian mengajarkan Amel juga. Tidak ada uangnya ya diusahakan,” tandas dia.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments